Duhai Bidadari

Berat mata, Berbalam kelam saat terbuka dari pejam, Kau tidak kelihatan sejak sinar mentari tadinya suram,
Dada ku yang sering menjadi bantal tempat kau beradu, terasa kosong tanpa rambut harum mu mengisi,
Sempit sesak tertahan air mata sendu berpuisi, Sunggu aku merasa rindu, Rindu dalam kafi tanpa kocak kedu.

Sayang,

Maunya mimpi ini ku tulis dan lukis, Kelak nanti lakarannya menjadi tebing tanpa hakis, Terjual berjilid cerita nangis.
Lenggok tari pencakmu menghiasi tubir mata,
membungkam hanyut ke lautan mimpi sepi,

mati yang tidak pasti kembali.

0 comments:

Blog Widget by LinkWithin